Penjelasan Rumah Adat Honai Super Lengkap: Asal Daerah, Suku, Keunikan, dan Gambarnya

Rumah adat honai merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Mungkin sebagian dari Anda ada yang penasaran mengenai rumah adat yang satu ini. Sehingga pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai asal daerah, asal suku, keunikan, dan gambar rumah adat Honai. Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!


Rumah Adat Honai Berasal dari Papua


Honai adalah rumah adat yang berasal dari daerah Papua. Lebih spesifik lagi, honai merupakan rumah adat dari suku Dani yang dapat diketemukan di Lembah dan pegunungan propinsi Papua. Papua populer dengan budayanya yang beragam-ragam serta beberapa dari penduduknya masih menggenggam kuat kebudayaannya.


Rumah adat honai

Daerah yang lumayan banyak diketemukan rumah adat honai adalah di lembah Baliem atau Wamena dengan suku Dani yang menimpatinya. Dinding rumah dibuat dari kayu yang di atur berdiri. Rumah ini mempunyai satu pintu pendek, tidak berjendela, dan mempunyai wujud kerucut yang dibuat dari jerami.


Argumen Honai dibuat sempit dan tidak berjendela mempunyai tujuan untuk meredam udara dingin pegunungan Papua. Disamping itu di tengah rumah Honai ada tempat pembakaran api unggun yang berperan sebagai penghangat. Menariknya, walau imut di rumah ada dua lantai dengan peranan yang lain.


Lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai ke-2 untuk tempat santai, makan, dan kegiatan keluarga yang lain. Bahkan juga saat malam hari pas di sisi tengah pada lantai ada galian tanah yang berperan sebagai tungku selainnya sebagai pencahayaan, baranya api berguna juga untuk menghangatkan badan.


Selainnya berperan sebagai rumah, rumah Honai berperan sebagai tempat simpan perlengkapan perang atau memburu, tempat latih anak lelaki supaya jadi orang yang kuat saat dewasa kelak hingga bisa melindungin sukunya, tempat untuk membuat taktik perang, tempat simpan semua lambang dan perlengkapan peninggalan nenek moyang.


Bangunan honai mempunyai tinggi capai 2,5 mtr. dan pada sisi tengah rumah dibikin lingkaran tempat membuat api sebagai penghangat tubuh. Bila disaksikan dari udara seperti terlihat jamur.



Keunikan Rumah Adat Honai


sketsa rumah adat honai

Rumah Honai mempunyai tinggi bangunan lebih kurang capai 2,5 mtr. dengan lebar 2,5 mtr.. Dengan ciri-ciri arsitektur yang cukup sedehana rumah Honai masih tetap kelihatan unik dan menarik.


Bangunan ini bisa diketemukan di lembah dan pegunungan di tengah-tengah pulau Papua. Daerah itu mempunyai temperatur udara dingin khususnya Pucuk Jayawijaya yang ada di ketinggian 2.500 mtr. di permukaan laut.


Hal itu menggerakkan orang papua untuk membikin rumah dengan tinggi yang cukup rendah, dengan 1 pintu dan tanpa jendela. Agar udara dingin di luar tidak masuk ke rumah, dan tempat berlindung dari hewan liar.


Di bagian atap rumah Honai dibuat kurucut yang dibikin dari jerami. Untuk perannya supaya membuat perlindungan dinding permukaan dari air hujan dan bisa batasi udara dingin yang masuk ke rumah.


Sedang pada bagian dinding rumah dibuat dari kayu dan cuman dikasih satu pintu tanpa jendela satu juga.


Ruang rumah adat papua ini terdiri jadi 2 lantai. Pertama lantai mempunyai peranan sebagai temapat tidur dan lantai yang mempunyai peranan untuk istirahat, makan, dan bergabung keluarga.


Pencahayaan saat malam hari memakai kayu yang dibakar di bagian tengah rumah. Selainnya untuk pencahayaan, panas dari baranya api digunakan untuk menghangatkan tubuh yang tinggal di rumah.


Tidak seperti warga kekinian yang tidur beralas kasur, beberapa yang tinggal di rumah ini menggunakan rumput-rumputan kering sebagai alas tidur. Pada rumah ini ada tiga tipe ruang.


Salah satunya pertama untuk golongan laki disebutkan Honai, untuk wanita disebutkan Ebei dan untuk kandang babi disebutkan Wamai.



Ciri Khas Rumah Adat Honai


Sebenarnya rumah adat di Papua cukup banyak jenisnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh fungsi dan asal suku yang menggunakan rumah tersebut. Namun, rumah adat honai yang sering dibangun oleh Suku Dani memiliki ciri khas, berikut beberapa diantaranya:


1. Asal Mula Nama Honai


rumah adat honai

Honai ini ialah rumah Suku Dani yang dari kata ‘Hun' dan ‘ai', di mana ini berarti rumah untuk lelaki. Itu kenapa tidaklah aneh bila andaikan yang menempati rumah adat ini ialah golongan lelaki.


Rumah itu mempunyai wujud unik seperti sebuah jamur yang dipakai untuk meredam dari air hujan, dan dipakai membuat perlindungan dari dinginnya lingkungan yang ada disekelilingnya. Bila beberapa pria tinggal di dalam rumah Honai ini lantas bagaimanakah dengan wanita? Tak perlu cemas karena golongan udara masih tetap tinggal di dalam rumah, tetapi rumah itu dinamakan dengan Ebai.


2. Untuk Pengasapan Mumi


Dibalik kekhasan rumah adat Honai rupanya untuk suku di pedalaman Papua, Dusun Aikima dan Dusun Kerulu, rumah Honai dijadikan lokasi untuk proses pengasapan mumi manusia. Aduh!


Jadi jasad yang diasapkan dan disakralkan tidak sembarangan orang gengs. Umumnya beberapa tokoh pemuka tradisi di tempat, seumpama kepala suku.


3. Rumah Mirip Jamur Besar

Rumah Adat Honai mirip jamur besar

Jika diperhatikan dengan cermat sepintas rumah adat Honai ini memiliki bentuk seperti jamur raksasa. Kekhasan rumah adat Honai ini bukan tanpa alasan. Hal tersebut terkait dengan ketersediaan bahan yang ada dan juga kondisi alam di daerah tersebut. 


Desain rumah adat honai yang menyerupai jamur ternyata memiliki fungsi untuk menahan terpaan udara dingin yang ada di sekitar lembah Baliem. Selain itu, meski ukurannya mungin, rumah adat Papua ini mampu menampung banyak orang. 


4. Rumah Adat Honai Hanya Untuk Laki-Laki


Honai adalah rumah adat yang berasal dari daerah Papua. Uniknya rumah ini hanya diperuntukan bagi kaum laki-laki, sedangkan wanitanya tinggal di rumah yang bernama Ebei. Jadi, di Papua itu laki-laki dan perempuan tidak disatukan dalam satu rumah ya, sekalipun mereka adalah pasangan suami istri.


5. Sisi Dalam Rumah Honai


Sisi dalam Rumah Adat Honai

Pada intinya selainnya disaksikan dari kekhasan rumah adat Honai rupanya rumah ini terbagi dalam 2 lantai lho.


Untuk ke arah lantai 2 umumnya memakai tangga yang dibuat dari kayu. Dan didalamnya cuman berisi jerami, kayu dan hasil bumi.


6. Rumah Adat Honai Digunakan Untuk Menyimpan Hasil Kebun


Hingga saat ini selainnya disaksikan dari kekhasan rumah adat Honai, rupanya rumah adat ini berperan untuk tempat simpan hasil kebun seperti ubi manis dan umbi-umbian yang lain lho.


Umumnya ini untuk menyemarakkan acara pesta bakar batu, itu lho adat warga di tempat untuk mengolah hasil panen bersama.


7. Masih Beralas Rumput Untuk Tidur


Di dalam rumah adat Honai ini Anda tidak pernah menemui mebel seperti yang tiap hari digunakan di dalam rumah, misalkan ialah kasur. Bahkan juga untuk keperluan istirahat atau tidur saja, karena itu warga di tempat tidak menggunakan atau beralas kasur, tetapi cuman memakai rumput yang telah dikeringkan, fasilitas ini jugalah yang nanti bisa membuat perlindungan dari udara dingin yang menyerang kulit saat malam hari, walau termasuk simpel, tetapi bagus sekali. ​


8. Sempit Tetapi Fungsional


Walau luas dari rumah Honai ini cuman sekitaran 5 mtr saja, tetapi tak perlu cemas, karena tempat tinggal yang ini sangat fungsional. Sama dalam lantai atas yang digunakan untuk tempat tidur, sedang di bagian lantai bawahnya dipakai sebagai tempat bergabung untuk aktivitas warga.


9.Tidak Mempunyai Jendela


Salah satunya kekhasan yang bisa juga diketemukan di dalam rumah adat warga Papua itu ialah Anda tidak menemui kehadiran jendela sama sekalipun. Rumah dengan tinggi sekitaran 2,5 mtr. ini cuman diberi dengan sebuah pintu yang digunakan untuk masuk keluar. Sedang luas ruangnya sendiri hanya sejumlah 5 mtr. saja.


Arah dari pembikinan ruang yang sempit dan tidak diberi dengan kehadiran jendela ini sendiri ialah untuk membikin keadaan di rumah itu masih tetap hangat, membuat perlindungan dari dinginnya udara saat malam hari, apa lagi ada di teritori pegunungan yang temperaturnya memang lumayan dingin. Untuk itu seringkali warga menghidupkan api di rumah supaya lebih hangat.



Struktur Rumah Adat Honai


Struktur Rumah Adat Honai
struktur rumah adat honai

Wujud bangunan honai ialah bundar atau bulat berdiameter 4-6 mtr., didukung oleh 4 tiang khusus (heseke) dan beberapa tiang penyangga yang kuat kuat dengan tinggi 5-7 mtr.. Terbagi dalam 2 sisi, yaitu lantai dasar (agarawa) dan lantai atas atau loteng (henaepu).


Struktur Rumah Adat Honai
struktur rumah adat honai

Bangunan honai yang bundar direncanakan untuk menghindar cuaca dingin karena tiupan angin ribut. Dibangun rapat ke tanah dengan alas (lantai) langsung ke tanah lalu tertutupi rumput-rumput kering (jerami). Tiap honai umumnya bisa memuat sekitaran 10 sampai 15 orang.


Honai umumnya bisa bertahan saat sebelum ditukar sepanjang 5 sampai 12 bulan. Membuat honai ialah pekerjaan beberapa lelaki Dani dan pekerjaan itu mereka lakukan dengan gotong-royong. Adat itu tetap bertahan sampai sekarang ini.


Honai didukung oleh 4 tiang khusus yang disebutkan heseke, yang ditancapkan di tanah dalam jarak tertentu (kurang lebih 1 mtr.) hingga berupa bujur sangkar. Di tengah tiang khusus berikut ditaruh tungku api yang disebutkan wulikin yang berupa bundar.


Satu honai dibikin loteng hingga terdiri jadi dua kamar, pada bagian atas disebutkan henaepu sebagai tempat tidur dan sisi bawah disebutkan agarowa untuk tempat istirahat, menceritakan atau bercengkerama, dan makan. Sisi loteng atau lantai atasnya rangkanya dibikin dengan kayu-kayu buah dan dialasi anyaman kayu lokop (seperti bambu yang paling kecil) dan bisa dialas kembali dengan jerami atau rumput kering.


Pintu honai cuman satu, memiliki ukuran kecil dan pendek hingga orang keluar dan masuk dengan status merayap. Pada bagian kanan atau kiri pintu masuk ada pintu ke arah loteng.



Manfaat dan Kegunaan Rumah Adat Honai


Sebagai rumah adat di Papua, Honai memiliki beberapa manfaat dan kegunaan, berikut beberapa diantaranya:


1. Tempat Tinggal


Salah satunya peranan khusus dari honai sebagai rumah untuk suku yang berada di Papua. Walau imut di rumah ada dua lantai dengan peranan yang lain. Lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai ke-2 untuk tempat santai, makan, dan kegiatan keluarga yang lain. Bahkan juga saat malam hari pas di sisi tengah pada lantai ada galian tanah yang berperan sebagai tungku selainnya sebagai pencahayaan, baranya api berguna juga untuk menghangatkan badan.


Sebenarnya rumah Honai cuman bisa ditempati oleh golongan lelaki saja. Sedang rumah untuk golongan wanita disebutkan rumah Ebei dan untuk kandang binatang disebutkan Wamai. Ke-3 tipe rumah ini memiliki bentuk kelihatan persis sama, namun rumah untuk beberapa pria ukuran semakin tinggi.


2. Identitas Suku Bangsa


Factor yang memengaruhi terciptanya sebuah identitas suku bangsa ialah bahasa, keyakinan, sikap, ciri-ciri biologis, dan budaya.


rumah adat adalah produk dari sebuah kebudayaan, karena dalam perancangannya mengikutsertakan beberapa unsur budaya.


Juga pembangunannya tidak sembarangan, tetapi memerhatikan tiap detilnya.


Dimulai dari manfaat, peranan sosial, material, sampai implementasi beberapa unsur tertentu berdasar rutinitas warga suku bangsa yang berkaitan.


3. Lambang Filosofi


Rumah adat sebagai bangunan yang sudah ada dari dulu saat dan di turunkan dari tiap angkatan. Didalamnya pasti memiliki kandungan arti dan filosofi yang lumayan banyak, dalam masalah ini rumah adat Papua yakni Honai.


Wujud melingkar pada rumah ini bermakna seperti berikut:

  1. Sebagai lambang jaga kesatuan dan persatuan antara sama-sama suku.
  2. Wujud sikap menjaga dan menjaga budaya yang sudah diturunkan oleh beberapa nenek moyangnya.
  3. Wujud kesolidan dengan hidup di satu atap rumah.
  4. Rumah Honai sebagai lambang dari personalitas, martabat, dan harga diri dari suku papua yang perlu dilestarikan dan dijaga.
Dan tentu saja masih banyak yang terkadung rumah adat ini yang cuman dapat dirasa oleh mereka beberapa yang tinggal di rumah ini.


4. Tempat Mendidik Anak


Selain digunakan untuk rumah, rumah adat Papua digunaan untuk tempat sharing dengan keluarga. Rumah sebagai media khusus untuk mendidik anak dan mengenalkan turunan mereka berkenaan bagaimana strategi berperang yang baik. Beberapa tetua tradisi akan mengajarkan cara mengincar, pertajam perasaan di rimba, dan menjaga persatuan tiap barisan atau sisi keluarga.


Dengan bentuk bangunan berupa lingkaran tanpa sudut, ini memvisualisasikan bila hubungan kekerabatan mereka akan kekal dan kuat, bersatu ke-2 nya. Bentuk lingkaran sebagai wujud bila setiap suku sebenarnya memiliki keserupaan, yakni berupa filosofi yang dipercaya masih sama walaupun mereka tinggal di lembah lainnya.


Sebagai alas duduk atau alas tidur ialah sawuleka yang diambil dari alang-alang opsi yang disebutkan yeleke. Alas atau penutup lantai berbentuk jerami dapat ditukar sama sesuai keperluan sama seperti dengan alang-alang penutup atap.


Demikian penjelasan seputar rumah adat Honai yang ada di Papua. Mudah-mudahan warisan budaya Indonesia ini tetap lestari ditengah gempuran budaya dari luar ya.

LihatTutupKomentar